25 April 2007

Bermain Sains Di TK

Beberapa Taman Kanak-kanak di Indonesia telah memulai setapak langkah berani yang bagus yakni mengajak anak-anak mengenal sains dengan melakukan eksperimen. Langkah ini dapat dipandang setidaknya melalui dua kacamata. Melalui kacamata bisnis, boleh jadi ini sebuah langkah diferensiasi, bagian dari cetak biru strategi memenangkan pasar. Melalui kacamata idealisme, boleh jadi ini merupakan salah satu keluaran dari kegelisahan panjang tentang bagaimana seharusnya anak-anak dibesarkan. Boleh jadi pula, kacamata itu bifokal: bisnis dan idealisme dalam satu “kaca”.

Pertanyaannya dari sudut usia anak-anak adalah, apakah tidak terlalu cepat? Ada sebuah korespondensi elektronik yang pernah saya baca mengenai ini. Jawabannya ialah, tidak ada saat yang terlalu cepat untuk memperkenalkan sains melalui eksperimen. Saya setuju.

Pertanyaan dari sudut manfaat bagi anak-anak adalah, apakah efektif bermain sains di TK? Tergantung. Apabila sesudah eksperimen anak-anak dijejali dengan penjelasan-penjelasan, maka itu tentulah sangat jauh dari efektif. Ambil contoh eksperimen membesarkan balon dengan mempertemukan cuka dan soda kue di dalam botol yang mulutnya dipasangi balon. Andaikan saja kegiatan eksperimen diakhiri dengan memberikan penjelasan mengapa terjadi begitu, maka menurut pengalaman tidak akan digubris. Anak-anak terlalu sibuk mengamati balon yang semula terkulai tiba-tiba meregang dan membesar. Sudah itu mereka saling sibuk bercerita, “hei, balonku jadi besar”, sementara yang lain menimpali, “balonku juga”, lalu ada yang tak mau kalah, “balonku lebih besar”. Tertibkanlah mereka untuk duduk di tempat masing-masing, karena akan ada penjelasan tentang “gas”. Mungkin mereka akan bisa ditenangkan sebentar, kemudian gaduh lagi. Pikir mereka, “orang dewasa ini ngomong apa sih?” atau Ada balon lagi untuk digede-in nggak?”

Jauh lebih inspiratif apabila dibiarkan saja anak-anak itu terus mengamati. Saling berceloteh. “Hei lihat, ada busa di dalam botol”. Sementara yang lain menimpali, “Wuih, botolnya jadi dingin!” Tak perlu dipaksakan hadirnya penjelasan-penjelasan, kecuali apabila ada yang bertanya. Inipun haruslah sederhana. Lantas kalau begitu apa manfaatnya? Bukankah nilai sainsnya terletak pada jawaban dari pertanyaan “mengapa terjadi seperti itu?”

Benar demikian, tetapi biarlah penjelasan itu nanti saja saat mereka sudah bertambah usia. Tanpa itu pun sesungguhnya mereka sudah belajar banyak. Di antaranya mereka sudah melakukan pengamatan atau observasi (balon yang terkulai menjadi besar, botol menjadi dingin dan muncul gelembung udara), dan juga membandingkan (balonku lebih besar). Mereka belajar bahwa ada cara lain untuk membesarkan balon selain meniup dengan mulut atau pompa, bahwa ada dua bahan “hebat” yang apabila dicampur bisa membuat balon jadi besar. Mereka juga mengamati, bahwa sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada.

Di rumah, biasanya mereka bercerita kepada ayah dan ibu. Dengan tutur yang barangkali masih melompat-lompat, mereka berupaya menceritakan kembali langkah eksperimen dengan urut. Dalam bentuk yang sederhana, mereka belajar presentasi. Biasanya pula mereka akan terinspirasi untuk mengulangi lagi percobaan serupa itu, kali ini dengan bahan-bahan yang lain. Bagaimana kalau gula dan garam yang dicampur, apa bisa balon membesar? Mungkin bisa. Coba tambahkan sabun, lalu tepung, lalu bahan lain sehingga akhirnya menjadi adonan yang tidak karuan. Balon tetap saja tidak besar. Mereka lalu berpikir kira-kira seperti ini, “o, kalau begitu aku perlu dua bahan yang tadi dipakai di sekolah. Tapi meskipun nggak berhasil membesarkan balon, aku berhasil membuat campuran yang seru. Asyik juga.” Jelaslah terlihat proses kreatif berlangsung di sini. Jelas pula terlihat serangkaian disiplin sains, seperti mendefinisikan masalah (apakah gula dan garam bisa membesarkan balon?) membuat hipotesis (mungkin bisa), melakukan percobaan (kegiatan campur mencampur), dan menyimpulkan (ternyata balon tidak membesar dan eksperimen tidak harus selalu berhasil).

Ada lagi manfaat yang amat penting. Memberikan kesempatan bereksperimen kepada anak-anak berarti mendorong mereka untuk berani mencoba. Suatu sifat mental yang kini amat berharga dan langka di dunia orang dewasa. Banyak sungguh orang dewasa yang terpenjara oleh ketakutan dan kecemasan yang diciptakan oleh pikiran sendiri. Amat sering kita jumpai orang-orang yang tak berani mengambil resiko, memilih diam, menghamba kepada kemapanan. Jikalau kesempatan untuk berani mencoba terus menerus diberikan kepada anak-anak, maka sangat mungkin kelak mereka tumbuh menjadi manusia penempuh resiko, sang pembuka jalan, sang pencatat sejarah.

Selain itu melakukan eksperimen adalah pintu yang paling asyik untuk memasuki dunia sains. Kalau dilakukan di masa kanak-kanak, maka ia berpotensi besar untuk menjadi memori masa kecil yang menyenangkan. Saat bertambah usia dan tiba waktunya mereka mendalami sains dengan disiplin yang lebih “serius”, maka memori masa kanak-kanak itu akan bermetamorfosis menjadi sebentuk persepsi, bahwa sains itu menyenangkan!

Tatkala sains menjadi menyenangkan, maka energi yang besar akan bersemayam di dalam diri anak-anak. Ketakutan dan kecemasan bahwa sains itu menyeramkan dapat dipastikan akan terkubur dalam-dalam. Kalaulah itu terjadi, sungguh berbahagialah bangsa ini. Mimpi untuk menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa dunia dalam hal sains dan teknologi bukan lagi bagai pungguk merindukan bulan.

Sebuah Pelajaran Dari Penjepit Kertas

Tak diragukan bahwasanya penjepit kertas merupakan sebuah alat sederhana dengan manfaat besar. Alat ini mempunyai bentuk dan prinsip kerja yang begitu sederhana. Ia terbuat dari kawat baja tipis yang ditekuk membentuk huruf S lalu dilipat. Lipatan itu membuat celah yang berguna untuk menjepit kertas.

Uniknya dan hampir tak dapat dipercaya alat sesederhana itu masih belum dikenal oleh manusia hingga tahun 1899, setahun sebelum dimulainya abad ke 20. Jadi, hingga tahun itu orang masih menggunakan karet gelang untuk membendel kertas. Sungguh tak praktis. Barulah kemudian penjepit kertas ditemukan oleh seorang Norwegia bernama Johan Vaaler. Ia mematenkan temuannya di Jerman karena negaranya tak punya lembaga paten.

Mengapa alat yang sangat sederhana itu luput dari pikiran para penemu? Mengapa ia tak seperti saudara dekatnya yaitu peniti yang sudah dipakai orang-orang Yunani kuno, Italia dan Sisilia sejak sekitar empat ribuan tahun lalu? Mengapa pula peniti yang sudah ribuan tahun menyandang kesalahan fatal (Ujungnya tak tertutup sehingga sering melukai pemakainya dan tak mempunyai per sehingga tak dapat memegang dengan erat) baru berhasil diperbaiki oleh Walter Hunt dari New York pada tahun 1825. Mengapa banyak peralatan yang jauh lebih rumit justru ditemukan sebelum penjepit kertas? Sebut saja misalnya termometer raksa yang ditemukan oleh Gabriel Fahrenheit pada tahun 1714, teleskop pantul yang ditemukan oleh Fisikawan tenar Isaac Newton pada tahun 1688, atau mesin cetak yang ditemukan oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1450.

Mungkin rangkaian pertanyaan itu tak perlu jawaban. Yang pasti fenomena penjepit kertas ini (dan juga peniti) seperti hendak menyampaikan sinyal kuat kepada kita untuk waspada karena boleh jadi alat, teknik atau cara sederhana yang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia belum lagi ditemukan. Mereka masih melayang-layang di udara menanti seseorang yang kreatif menangkapnya. Masalahnya sekarang : adakah udara sekitar kita sudah dan terus menyajikan iklim yang sehat bagi kreatifitas itu?

Entah bagaimana, sejarah rupanya acapkali menyajikan kebetulan-kebetulan yang unik. Pada tahun yang sama saat penjepit kertas ditemukan, Kepala Kantor Paten Amerika Serikat yang bernama Charless H. Duell justru menyarankan agar Kantor Paten yang dipimpinnya ditutup saja. Sudah tak ada gunanya, karena semua yang mungkin ditemukan sudah ditemukan.

Kita tahu Pak Duell salah total. Akan tetapi pesimisme, picingan negatif bahkan sinisme serupa itu terus bermunculan di sepanjang sejarah. Inilah yang dikatakan oleh Harry M. Warner dari Warner Brothers pada tahun 1927 tentang film bersuara, “Who the hell wants to hear actors talk?" Bos IBM Thomas Watson pada tahun 1948 mengatakan, “I think there is a world market for maybe five computers”. Perusahaan rekaman Decca pada tahun 1962 berkomentar miring soal Beatless, “We don't like their sound, and guitar music is on the way out.”

Apakah aroma negatif serupa itu menyeruak di lingkungan kita? Jika ya, maka itu merupakan gizi yang buruk bagi kreatifitas dan seyogyanyalah segera dihentikan. Aroma negatif itu bisa berupa penertawaan terhadap ide anak yang dinilai konyol. Bisa berupa “kemarahan” guru jika ada murid yang bertanya perihal asal muasal suatu rumus. Bisa berupa klaim bodoh terhadap seorang anak.

Di klub sains kami anak-anak diberi ruang untuk terus mencoba saling menghargai dan saling mendorong semangat. Menertawakan ide adalah hal yang ditabukan. Suatu hari seorang anak usia kelas 1 SD mencampur beberapa larutan sederhana. Dikatakannya bahwa ia sedang membuat larutan yang bisa membuat orang menghilang. Walaupun sudah dapat ditebak bahwa larutan tersebut tak terbukti berhasil menghilangkan orang, itu tetap saja sebuah ide imajinatif yang mengagumkan. Lain lagi cerita seorang anak usia kelas 2 SD yang mencoba mengapungkan kentang di dalam air dengan memasukkan dua bahan padat yang berbeda. Yang satu garam, yang satu gula. Tanpa diaduk! Sebuah metode yang sekilas aneh. Akan tetapi hasilnya mengagumkan. Setelah beberapa waktu air yang diberi garam berhasil mengapungkan kentang, sedangkan yang diberi gula tidak. Ini menceritakan bahwa garam lebih cepat larut dalam air ketimbang gula. Zat padat hanya akan mampu meningkatkan gaya angkat air jika ia larut.

Di klub kami ada eksperimen untuk menguji adanya tepung yang dicampur ke bubuk lada yang dijual di pasaran. Dalam suatu presentasi rutin triwulanan kami, seorang anak kelas 6 SD memodifikasi metode itu untuk menguji berbagai merk keju. Sebuah ide sederhana yang ternyata memesonakan para orang tua yang menghadiri peresentasi itu. Si anak berhasil membuktikan adanya campuran tepung pada keju merk tertentu. Akibatnya, sejumlah ibu berniat untuk beralih ke merk lain! Tetapi mohon tidak salah tangkap. Produsen keju tersebut tidak sedang melakukan penipuan, karena adanya kandungan tepung dinyatakan di dalam kemasan. Hanya, tak satupun dari para ibu itu yang menyadari hingga seorang anak SD membuktikannya melalui eksperimen sederhana!

Masih banyak lagi yang lain. Selalu saja ada yang menarik pada anak-anak tersebut. Proses kreatif mereka tak jarang menghasilkan kejutan-kejutan. Akan tetapi sudah barang tentu itu belumlah cukup bila hanya berlangsung di ruang-ruang terbatas seperti klub sains kami. Proses kreatif itu sepatutnya berlangsung pula di rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Sepatutnya pula ia bergerak secara masal dengan melibatkan sebanyak-banyaknya anak dan tak mesti melulu berbentuk kegiatan sains.

Masih ada sangat banyak karya sesederhana penjepit kertas yang menunggu untuk ditemukan. Mudah-mudahan porsi terbesarnya ditemukan oleh bangsa tercinta ini. Bukan untuk apa-apa, melainkan untuk memberikan maslahat yang besar bagi dunia. Bukankah sebaik-baiknya bangsa ialah yang memberikan maslahat yang besar bagi bangsa lainnya?

Surat Ayah Untuk Puteranya Pada 2 Mei 2005

Anakku sayang. Barangkali sudah kaubaca juga berita hari ini, perihal 4 orang kakak SMA yang berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Fisika Asia ke 6 di Pekanbaru. Kita nomor 2 nak, di bawah China dan mengungguli Taiwan serta Singapura. Tahun lalu para kakak SMPmu menjadi juara umum pada Olimpiade Sains Junior Internasional. Lalu ini, 2 orang kakak mahasiswamu berhasil memenangkan lomba computer programming yang diselenggarakan oleh Google (kau kenal dengan nama ini bukan?) di India maret lalu. Satu lagi, adik kecilmu berusia 7 tahun berhasil menjadi juara dunia catur termuda. Sungguh membanggakan, dan ayah tahu simpul-simpul syarafmu berpendaran, karena dalam dirimu juga bergejolak semangat untuk memberikan yang terbaik.

Bagi ayah, berita gembira itu membuat cahaya mentari 2 Mei ini menjadi lebih hangat. Ada optimisme yang menggeliat-geliat, bahwa bangsa ini sedang menapak cepat menuju kemuliaan. Sayang, di tengah hari sorot mentari berbalik terasa terik dan panas. Agak perih di kulit. Dari Yogya terdengar kabar sejumlah dosen dan mahasiswa UGM mendemo kenaikan gaji rektor nya yang mencapai 400 persen. Ah, tiba-tiba saja kita dihadapkan kembali kepada soal-soal yang sudah beberapa tahun ini merisaukan hati: Beaya pendidikan, mahalnya bukan kepalang.

Sisi melankolikku hendak berbagi cerita denganmu perihal UGM di masa hampir 20 tahun lalu. Sebuah kampus yang terbuka, yang memperbolehkan pedagang kaki lima berdagang di dalamnya. Sekarang ayah dengar gerbang menghadang di mana-mana. Konon dibangun dengan beaya yang tak kecil. Tentulah para petinggi kampus biru itu punya banyak pertimbangan. Kita berbaik sangka saja.

Dulu, di halaman parkir mudah sekali dijumpai berjejer sepeda. Ayah masih ingat seorang mahasiswa yang sehabis wisuda mengayuh sepedanya, pulang ke arah selatan Yogya. Sekarang, adakah kaum bersepeda masih punya cukup tempat di UGM? Entahlah. Semoga iya. Tetapi yang terdengar memekakkan udara adalah : ongkos ke perguruan tinggi naik gila-gilaan. Boleh jadi ada sebuah daftar panjang yang menjadi alasan di balik meroketnya beaya itu. Cuma bagi kelompok masyarakat seperti kita, perguruan tinggi adalah sekeping harapan yang terus menjauh.

Walau kita sudah bersepakat untuk hanya merawat dan membesarkan pikiran-pikiran positif, kita toh tetap harus menyediakan diri kepada berbagai kemungkinan. Yang ayah maksud, mungkin saja kami tak punya cukup uang untuk mengantarkanmu ke gerbang perguruan tinggi, termasuk ke perguruan tinggi negeri yang dulunya dikenal “merakyat”.

Jadi ayah hendak mengajakmu mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia bagi kita. Misalkan ketiadaan dana itu yang nantinya terjadi, lalu apa pilihan kita? Beasiswa. Itu artinya kami mendorongmu berjuang di depan. Sebuah pilihan yang ironis, bukan? Kami lalu memimpikanmu seperti kakak-kakak yang jago fisika itu. Bagi mereka beasiswa adalah kenyataan yang mudah, bahkan beasiswa untuk perguruan tinggi luar negeri. Walau kami yakin kau punya semangat yang luar biasa untuk menggapai hal demikian, tetap saja itu bertentangan dengan yang coba kita gapai selama ini : Berusaha menjadi diri sendiri. Maknanya, orang lain hanya boleh sampai pada batas inspirasi. Selebihnya, keunikan diri sendirilah yang harus kita temukan. Kalau kau memang ingin menjadi jagoan apa saja dan karenanya diganjar beasiswa, baguslah. Kalaupun tidak, sepanjang kau terus tumbuh menjadi dirimu yang lebih baik, itu lebih bagus.

Kalau tidak beasiswa, apa lagi pilihan kita? Lupakan perguruan tinggi. Perguruan tinggi boleh jadi sebuah jalan yang baik untuk mengantarkanmu kepada peranmu di dalam kehidupan. Akan tetapi ayah rasa kaupun tahu, itu bukan satu-satunya jalan. Ada banyak kisah perihal mereka yang meraih sukses tanpa melewati perguruan tinggi. Ada banyak nama di banyak surat kabar dan buku yang bisa kaukenali sebagai ikon-ikon yang tidak dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Pada usiamu yang baru lewat duabelas ini anakku, ayah percaya telah kaukenali bahwa persoalannya bukanlah pada kuliah atau tidak kuliah. Melainkan lebih kepada sikap diri dalam menghadapi kehidupan. Dapatkah kita menjadikan diri kita pembelajar sejati yang bersedia belajar dari apa saja, di mana saja dan pada waktu kapan saja? Dapatkah kita menghormati diri sendiri dengan tidak membiarkannya lemah oleh beragam pukulan, lunglai oleh beragam kenyataan pahit? Dapatkah kita secara “nasional” mendidik seluruh komponen dalam diri kita untuk hanya mengusahakan yang lebih baik dari hari ke hari, apapun pilihan profesi kita? Dapatkah kita menjadi penyapu jalan atau pejabat negara atau rektor perguruan tinggi yang sepenuhnya mendedikasikan pekerjaan bagi kemaslahatan masyarakat?

Beberapa jam lalu ayah sempatkan berlama-lama menatap wajah sederhana Ki Hadjar Dewantara. Kautahu warna yang mengabut di perasaanku? Abu-abu. Jika dihadapkan pada potret perjuangan Ki Hajar, berada di titik manakah dunia pendidikan kita sekarang? Ayah kuatir titik itu berada di luar pigura. Andaikan beliau masih hidup sekarang dan bercakap-cakap dengan pejabat perguruan tinggi, gerangan apakah yang hendak beliau sampaikan? Rasa bangga atau mualkah? Bagaimanakah perasaan beliau mendengar berita perihal beberapa anak yang memilih keputusan getir untuk bunuh diri lantaran tak sanggup mengongkosi tugas sekolah yang nilainya hanya ribuan? Sebuah nilai rupiah yang dengan amat mudah dibuang orang kota untuk parkir atau tip di jalanan setiap hari.

Boleh jadi ini bukan merupakan pengandaian yang relevan. Boleh jadi ini sekedar igauanku yang muncul lantaran diam-diam mulai cemas akan apa yang bakal terjadi kelak. Tapi baiklah kita sepakatkan saja untuk tegakkan kepala. Kalaulah perguruan tinggi nantinya berkata tidak kepadamu, bersama-sama akan kita buka pintu-pintu lain untuk membawamu kepada peran unikmu di muka bumi ini. Salam sayangku untukmu.

Jenius di Rumah Kita


Ini pengalaman pribadi di tahun 2005. Suatu hari si bungsu di rumah kami yang ketika itu berusia belum 10 tahun mengatakan dengan nada sedikit murung, bahwa ia tidak sepintar si sulung yang selalu berada di peringkat 10 besar di sekolah. Entah bagaimana ceritanya sehingga ia sampai pada kemurungan semacam itu. Bisa jadi sebagai orang tua kami telah tanpa sengaja melakukan komparasi-komparasi. Ya, tanpa sengaja, karena kami memang sedari awal sepakat bahwa anak yang satu tidak untuk diperbandingkan dengan anak yang lain.

Untunglah si bungsu kami tergolong ekspresif. Yang bergejolak di hati, hampir tak pernah ia diamkan. Sebagai jawaban saya lalu bercerita tentang Louis Pasteur, seorang lelaki Perancis dari abad ke 19 yang dikenal dunia melalui prestasinya di bidang kimia dan biologi. Beliaulah pendiri cabang ilmu mikrobiologi, yang juga menemukan proses pasteurisasi yang hingga kini masih dipakai untuk mematikan bakteri pada susu. Pasteur juga menemukan vaksin untuk melawan beberapa jenis penyakit, termasuk rabies. Ilmuwan yang fenomenal ini hanya mendapatkan nilai C untuk mata kuliah Kimia.
Saya kisahkan pula kepadanya perihal seorang lelaki lain yang bernama Nolan Bushnell. Ketika kuliah di University of Utah, Amerika Serikat lelaki ini berada pada peringkat terakhir di kelasnya. Beberapa tahun kemudian dunia mengenalnya sebagai penemu “Pong”, permainan video game yang pertama.
Thomas Alva Edison, salah satu penemu paling hebat di muka bumi ini, dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak sanggup mempelajari apapun. Sir Isaac Newton, salah satu fisikawan sekaligus matematikawan paling masyhur dalam peradaban manusia, awalnya dianggap sebagai murid yang lamban alias lemot (lemah otak) menurut istilah anak jaman sekarang.

Terdapat sangat banyak contoh di masa lalu yang membuktikan bahwa peringkat akademik bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan atau dibanggakan. Ada faktor lain yang jauh lebih penting. Sejumlah pakar mungkin menamakannya sebagai kecerdasan emosional, akan tetapi bagi si bungsu saya membuat deskripsi yang lebih sederhana. Saya katakan kepadanya, bahwa yang patut ia murungkan adalah apabila dirinya telah kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan gairah untuk bertanya-tanya, kehilangan semangat untuk bermain-main dan mencoba-coba sesuatu, kehilangan antusiasme untuk mempelajari hal baru.

Sejauh ini, tak ada yang patut dirisaukan. Selalu saja ada proses kreatif yang dikerjakan oleh si bungsu. Suatu kali ia membuat buku cerita. Kali yang lain ia membuat komik. Pernah ia mendeklarasikan dirinya sebagai Direktur PT Kura-Kura. Alasan mengapa nama itu yang dipakai, amat sederhana. Tidak lain karena ia sudah memiliki stempel bergambar kura-kura, jadi tidak perlu repot menyiapkan stempel baru. Kepada para karyawan yang terdiri dari boneka koleksinya, ia menulis surat resmi yang menyatakan bahwa sebagai direktur dirinya berkewajiban menyiapkan berbagai fasilitas bagi kemajuan perusahaan. Tak lama sesudah itu ia menerbitkan majalah yang berisi profil dirinya sebagai direktur. Edisi selanjutnya sedang disiapkan, dengan topik utama tentang profil salah seorang karyawan PT Kura-kura. Di kali yang lain ia menyulap kaleng bekas menjadi robot penyapu lantai. Tentu saja robot ini belum bisa bekerja, karena belum ada komponen elektronik di dalamnya.

Atas semua yang telah dikerjakannya itu, maka ia tidak perlu mencemaskan nilai rapor. Belajar adalah sebuah kesenangan, bukan penghambaan terhadap hari-hari yang bernama ujian. Sebaliknya saya malah beranggapan bahwa ia jenius. Dunia boleh mempunyai definisi sendiri, tetapi bagi kami si bungsu adalah satu dari dua jenius yang kami miliki. Saya yakinkan bahwa ia akan bertambah jenius apabila terus mempunyai semangat yang tinggi untuk berimajinasi, untuk terus melakukan proses kreatif mewujudkan imajinasi-imajinasi itu.

Tugas kami sebagai orang tua adalah memastikan bahwa tersedia cadangan energi yang cukup untuk menyokong semangat itu. Bahan bakar bagi energi itu tidak hanya berupa buku-buku, kunjungan-kunjungan, permainan dan tebakan kreatif, barang-barang bekas dan mainan rusak yang menumpuk di gudang, kegiatan eksperimen sains yang rutin, dan lain-lain, melainkan juga berupa senyuman, dorongan, pujian, tepuk tangan. Ia harus betul-betul menjumpai kami berada di pihaknya.

Ini pengalaman pribadi. Akan tetapi kepada Anda para orang tua, saya hendak berbagi. Sangat boleh jadi apa yang dilakukan oleh putera-puteri Anda jauh lebih jenius ketimbang si bungsu kami. Untuk itu, hemat saya, mereka berhak atas masa kanak-kanak yang imajinatif, inspiraftif, eksploratif. Jikalau Anda menyangka tidak ada hal istimewa yang dilakukan si kecil, maka sangat boleh jadi Anda belum cukup lama meluangkan waktu bersamanya. Cobalah lebih banyak bermain bersama, cermati hal-hal kecil yang dilakukannya. Anda akan menjumpai potensi jenius di sana. Sebagai dorongan, patut dipertimbangkan untuk menyediakan magnet, kompas, kaca pembesar dan alat-alat investigatif sederhana lainnya. Patut pula dipertimbangkan untuk tidak buru-buru membuang barang bekas. Sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat dan kegiatan-kegiatan yang beragam, semisal museum, pertunjukan teater, pameran lukisan, pembacaan puisi, toko barang bekas, galeri sains dan lain-lain.

Kalau atas nama rutinitas yang padat Anda merasa penat dan tidak sempat, maka satu hal saja yang perlu diingat. Mereka akan tumbuh dewasa, dan ketika saat itu tiba Anda tidak dapat memulangkan mereka kembali ke masa kanak-kanak untuk memperbaiki semua yang berlalu secara keliru.

Memangnya Sains Itu Serius?

Kompas, 01 November 2004


SEORANG anak kelas VI sekolah dasar memasang botol plastik yang telah dibelah dua di atas mobil-mobilan Tamiya tanpa bodi. Di dalam botol ia masukkan balon berisi air, sambil tangannya terus menjepit leher balon agar air tidak tumpah sebelum waktunya. Kemudian jepitan ia lepaskan. Air mengucur deras ke belakang, dan mobil-mobilan meluncur ke depan. Anak itu gembira. Betul-betul gembira. Beberapa temannya yang menyaksikan bertepuk tangan.

EKSPERIMENNYA itu kemudian diikutkan pada suatu lomba. Sang juri bertanya, "Percobaanmu itu apa gunanya?"

Sedikit tergagap si anak menjawab, "Ini bukti air sebagai sumber energi."

Juri mengangguk-angguk. Tak ada pertanyaan lagi sesudah itu. Habis. Tak ada tawa. Beda sungguh dengan ketika pertama kali hasil eksperimen itu diperagakan di hadapan teman-temannya.

Entah karena jawaban tersebut, entah karena hasil eksperimen itu kalah menarik dibandingkan dengan eksperimen karya peserta lainnya, walhasil anak itu tidak menang.

Akan tetapi bukan itu yang penting. Saya bayangkan kalau saya juri, tak akan saya tanya manfaatnya. Saya akan bertanya bagaimana ceritanya ia mendapat ide seperti itu? Bagaimana perasaannya menemukan mainan sederhana itu? Bukan kebetulan, saya tahu kisah bagaimana eksperimen itu dimulai. Anak itu terinspirasi oleh eksperimen temannya yang gagal meluncurkan mobil dengan udara. Digabung dengan hasil main-mainnya dengan balon berisi air, jadilah mobil bertenaga air. Boleh jadi yang seperti itu pernah dilakukan di belahan bumi yang lain. Bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi, bagi si anak, tetap saja baru.

Menurut hemat saya, jauh lebih berharga apabila juri mengeksplorasi kegembiraan anak-anak saat menceritakan kembali perjalanan eksperimennya ketimbang menghadangnya dengan pertanyaan "apa manfaatnya?" Biarlah binar-binar memancar dari mata mereka karena itu akan bermetamorfosis menjadi antusiasme. Antusiasme itu akan menjadi energi untuk kembali mengerjakan eksperimen sains yang asyik. Pertanyaan "apa manfaatnya" hanya akan menjadi pagar khayalan yang menghadang kreativitas mereka di sana-sini.

Saya jadi teringat kisah Richard P Feynman (1918-1988) dari Amerika Serikat yang merupakan salah seorang fisikawan paling berpengaruh di abad ke-20. Ia peraih Nobel Fisika tahun 1965. Suatu ketika Feynman merasa mulai sebal dengan fisika. Ia tahu sebabnya. Tidak lain karena ia mulai serius. Akhirnya ia putuskan untuk kembali seperti dulu: bermain dengan fisika. Ia menulis di bukunya, "aku melakukan apa saja yang kusukai; apa yang kukerjakan tak mesti penting untuk perkembangan fisika nuklir, tapi asal menarik dan menyenangkan untuk mainanku".

Suatu ketika Feynman bermain lempar piring di kafetaria kampusnya. Waktu piring itu melayang di udara, ia melihat bandul merah di atas piring itu berputar-putar, lebih cepat daripada perputaran piring. Dengan penuh semangat ia mulai menghitung gerakan rotasi piring itu. Hasilnya ia ceritakan kepada koleganya, fisikawan terkenal Hans Bethe (peraih Nobel Fisika tahun 1967).

Bethe bilang, "Feynman, itu memang menarik, tetapi apa pentingnya? Mengapa kau kerjakan?"

Memang tidak ada pentingnya. Feynman mengerjakannya cuma karena senang. Komentar Bethe tidak memengaruhinya karena ia sudah menetapkan hati untuk menikmati fisika. Ujungnya, main-mainnya itu mengantarkan ia kepada perhitungan-perhitungan gerakan elektron yang rumit, yang membuatnya memperoleh Nobel Fisika. Ya, itulah. Semestinya sains didekati dengan semangat bermain.

Rupanya tidak mudah melepaskan sains dari kata "serius". Di dalam lomba percobaan sains yang lain, seorang anak SD memeragakan kincir air buatannya. Kincir air itu bagus dan sederhana. Ia kemudian bercerita mengenai manfaat dari kincirnya itu, yang dikatakannya dapat memperbaiki kesejahteraan petani. Di sinilah soalnya. Paparan itu tampak membanggakan, tetapi saya malah jatuh iba. Anak sekecil itu sudah memikirkan soal yang serupa itu. Mungkin ini dramatisasi, tetapi sempat terpikir: berat benar jadi anak Indonesia! Ingin saya bilang, "Ayo kita keluar bermain-main dengan kincir airmu itu. Biar orang dewasa saja yang memikirkan kesejahteraan petani."

Saya tidak tahu adakah soal kesejahteraan petani itu idenya sendiri atau "pesanan" orangtua atau gurunya. Apa pun, menurut pendapat saya, hal ini menjerembabkan sains menjadi serius. Eksperimen sains anak-anak kembali "menghamba" untuk menjadi jawaban atas pertanyaan "apa manfaatnya".

Penyakit serius ini sempat menjangkit pula di klub sains yang saya asuh. Beberapa anak minta saran bagaimana cara menjawab pertanyaan, "apa manfaat percobaanmu?"

Saya balik tanya, "Menurutmu apa?"

"Enggak tahu."

"Ya sudah. Jawab saja belum tahu. Atau bilang saja, percobaan ini membuat saya lebih memahami sains. Memang kenyataannya begitu kan?"

"Kalau ditanya manfaat sehari-hari?"

"Kalau tidak tahu, bilang saja tidak tahu. Memangnya harus selalu ada manfaat sehari-harinya?"

"Ya, kalau jawabannya begitu, bisa kalah dong!"

"Tidak mengapa. Lebih penting bagimu menikmati dan memahami sains daripada memenangi lomba. Jauh lebih penting bagimu untuk bergembira dengan sains daripada mencemaskan akan juara atau tidak."

Anak-anak, bahkan juga kita orang dewasa, patut diberitahukan bahwa kemenangan yang sesungguhnya ialah apabila kita semakin memahami alam. Jadi, entah di rumah entah di sekolah atau di mana saja, biarlah anak-anak bergembira dengan sains. Biarlah mereka menemukan dunia yang asyik melalui kegiatan-kegiatan yang tampak tak berguna semacam mengamati semut, mencampur soda kue dan cuka di dapur rumah Anda, atau meniup gelembung sabun dari sisa sabun mandinya. Dampingi saja mereka bermain dan bergembiralah bersama. Atau jangan-jangan Anda sendiri masih memandang sains kelewat serius?

A Muzi Marpaung Pengasuh Klub Sains Ilma

Sang Pemimpi

Kompas, 02 Desember 2004


"It is difficult to say what is impossible, for the dream of yesterday is the hope of today and the reality of tomorrow." (Robert H Goddard, Bapak Roket Modern, 1904)

Pernahkah Anda memergoki anak Anda tengah mengkhayal menciptakan benda ajaib semacam robot yang dapat membantunya mengerjakan semua PR, atau menciptakan tempat tidur yang tidak kelihatan dan bisa digunakan di mana saja, atau benda-benda luar biasa aneh lainnya? Kalau ya, itu berarti kabar baik.<>

Apabila difasilitasi dengan tepat, sangat boleh jadi anak Anda bisa menjadi penemu yang hebat. Berikut saya hendak berbagi cerita tentang beberapa orang di masa lalu yang oleh zamannya disudutkan sebagai "pemimpi" atau "pengkhayal", tetapi waktu kemudian membuktikan bahwa mereka adalah visioner yang mengagumkan

Salah satu cerita paling dramatik adalah kisah tentang Robert H Goddard (1882-1945), yang ungkapan jeniusnya saya kutip pada awal tulisan ini. Pada tahun 1919 ia melontarkan teori yang menguraikan kemungkinan meluncurkan roket ke luar angkasa dan mendaratkan manusia ke Bulan.

Menanggapi pemikirannya ini, pada 13 Januari 1920 The New York Times menurunkan editorial yang amat pedas, "Professor Goddard does not know the relation between action and reaction and the need to have something better than a vacuum against which to react. He seems to lack the basic knowledge ladled out daily in high schools".

Kritikan ini ditanggapinya dengan dua hal positif. Yang pertama, sebuah komentar ringan berikut, "Every vision is a joke until the first man accomplishes it; once realized, it becomes commonplace."

Yang kedua berupa riset tanpa lelah sepanjang 20 tahun yang menghasilkan kemajuan sangat berarti dalam bidang peluncuran roket, walaupun tetap belum dapat membuat roket meluncur ke luar angkasa.

Teori Goddard betul-betul terbukti ketika tahun 1969 Apollo 11 dapat mendarat di Bulan. Kepada Sang Profesor, roket yang telah bersemayam tenang di makamnya selama 24 tahun, The New York Times menyampaikan permohonan maaf melalui editorialnya bertanggal 17 juli 1969:

"Further investigation and experimentation have confirmed the findings of Issac Newton in the 17th century, and it is now definitely established that a rocket can function in a vacuum as well as in an atmosphere. The Times regrets the error."

Apakah permohonan maaf ini amat terlambat? Bagi seorang visioner semacam Goddard, jawabannya tentu saja tidak. Seorang visioner sering kali siap "mengorbankan" dirinya untuk ditolak oleh zamannya.

Thomas Alva Edison (1847-1931) adalah salah seorang penemu paling hebat di muka bumi ini. Ia sempat mengenyam pendidikan sekolah dengan total waktu 3 bulan, lalu dikeluarkan karena guru menganggapnya tidak dapat belajar apa-apa. Mereka berkata bahwa ia cuma seorang pemimpi. Kelak, sang pemimpi itu mencatatkan dirinya sebagai pengukir sejarah. Lebih dari 1000 hak paten dimiliki olehnya. Ini berarti paten terbanyak atas nama orang yang sama sepanjang sejarah hingga sekarang.

Sinis

"Heavier-than-air flying machines are impossible." Kalimat beraroma sinis tersebut diungkapkan oleh Lord Kelvin, Presiden Royal Society pada tahun 1895. Bagusnya, ini tidak menghentikan mimpi Wright bersaudara, Orville dan Wilbur. Pada tahun 1903, dua bersaudara yang berprofesi sebagai pembuat sepeda tersebut dapat menerbangkan "Flyer", pesawat terbang pertama yang lebih berat dari udara dan digerakkan oleh mesin.

Tiga cerita tadi sekadar contoh kecil. Ada sangat banyak pemimpi di sepanjang sejarah peradaban manusia yang telah berjasa mengantarkan kita kepada dunia yang berwarna-warni sekarang ini. Jauh ke depan hingga akhir zaman masih akan ada banyak pemimpi serupa.

Salah seorang di antaranya boleh jadi adalah seorang anak kecil yang tengah asyik bermain di ruang keluarga Anda, yakni anak Anda tersayang. Tentu saja dengan sebuah persyaratan: Anda harus "mengelolanya" dengan sabar dan tepat.

Albert Einstein berujar bahwa imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan. Oleh karena itu, bentuklah kehidupan kanak-kanak yang imajinatif di rumah Anda. Boleh jadi menarik apa yang dibangun oleh keluarga Wright di penghujung abad ke 19.

Orville Wright menulis perihal masa kecilnya, "Kami beruntung tumbuh di dalam lingkungan yang senantiasa mendukung anak-anak untuk berburu semua yang menarik secara intelektual, untuk menyelidiki apa saja yang menggoda rasa ingin tahu."

Lingkungan yang mendukung itu dapat berbentuk dalam wajah yang beragam. Apabila biasanya Anda membelikan cat air, cobalah sesekali membuat cat air sendiri bersama anak-anak. Anda hanya memerlukan pewarna makanan, sedikit air, dan kapur tulis yang dihaluskan. Selanjutnya coba ganti pewarna makanan dengan cairan warna yang diperoleh dari bunga.

Apabila Anda terbiasa membelikan lilin mainan (play dough) impor yang harganya mahal, cobalah sesekali membuat sendiri bersama mereka. Anda hanya perlu memasak adonan dari tepung terigu yang telah diberi pewarna, sedikit minyak dan garam. Lain waktu cobalah membuat tempelan kulkas dari gipsum yang dicetak pada cetakan es batu.

Ketimbang mainan pesawat yang sudah jadi, lebih imajinatif apabila anda membelikannya building block (balok susun). Izinkan anak-anak Anda untuk membongkar mainan mobil-mobilannya. Perbolehkan anak Anda untuk mencampur berbagai bahan untuk menciptakan "ramuan ajaib" sesuai dengan imajinasinya, sekalipun dengan resiko rumah Anda akan sedikit berantakan.

Semangati anak Anda untuk menuliskan ide-ide luar biasa mereka pada sebuah buku khusus. Dukunglah mereka dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan ide tersebut. Siapkan pula waktu luang Anda untuk melakukan eksperimen sains bersama mereka. Di dalam eksperimen sains selalu ada ruang yang lebar untuk merawat rasa ingin tahu, untuk membesarkan inspirasi.

Suatu hari nanti ketika tempat tidur yang tidak kelihatan yang bekerja secara elektromagnetis (atau secara "apa saja") benar-benar ditemukan, semoga salah seorang anak kitalah penemunya.

Kalaupun bukan, setidaknya mereka pernah menulis ide itu. Kira-kira sama seperti Leonardo da Vinci yang membuat desain helikopter dan kapal selam jauh sebelum kedua kendaraan tersebut diciptakan. Semoga.

A Muzi Marpaung Pengasuh Klub Sains Ilma